Filosofi Dimsum

 


Dimsum adalah istilah dari bahasa Kanton, Tiongkok yang berarti makanan kecil. Sedangkan dalam bahasa Mandarin disebut dianxin yang secara harafiah berarti 'sedikit dari hati' atau 'menyentuh hatimu'. Sesuai dengan porsi per sajian yang kecil dan jumlahnya memang tidak banyak, hanya sekitar tiga hingga empat buah dalam satu piring atau wadah kukusan bambu.


Kudapan ini berasal dari Jalur Sutra khususnya di bagian Asia Tengah, dimana pada zaman Dinasti Han merupakan rute perjalanan yang sering dilalui pedagang, buruh, dan petani. Orang-orang yang berlalu lalang membutuhkan tempat istirahat dan kemudian mampir sejenak ke kedai, untuk menikmati teh dan makanan ringan. Makanan ringan inilah yang sekarang kita kenal dengan dimsum dan kemudian muncul istilah yumcha yang berarti minum teh bersama sambil menyantap dimsum.Biasanya, dimsum disantap sebagai menu sarapan atau sarapan siang. Namun, di Indonesia, dimsum umumnya menjadi makanan kudapan.

Ada beberapa macam jenis dimsum, yaitu:

  • Siu Mai
  • Har Gao
  • Bao Xi
  • Xiao Long Bao
  • Chun Juan
  • Lu Ma Gai
  • Zheng Feng Shua

Pada awalnya, dimsum berfungsi sebagai makanan raja yang biasa disantap di pagi hari bersama teh hitam hangat.


Kebiasaan makan dimsum ternyata pernah pudar sejenak, lho! Hal ini dikarenakan oleh salah satu tabib yang terkenal pada zaman itu, Hua Tuo mengatakan makan dimsum dapat menyebabkan kegemukan. Akan tetapi masyarakat Kanton di Cina Selatan tidak memedulikan imbauan tersebut, malah menjadikan dimsum sebagai makanan tradisional untuk dinikmati dengan teh bersama teman-teman.


Nah, itu tadi sekilas sejarah mengenai dimsum, di Jakarta sendiri sebagian besar restoran Chinese food turut menjual dimsum sebagai menu pelengkap. Setelah membaca artikel di atas jadi kepengen makan dimsum, kan? Yuk segera cari tahu restoran yang menyajikan dimsum terenak di daerah kamu!

Komentar